Ingat Denmark, Prancis Harusnya tak Macam-macam dengan Muslim

- Jumat, 30 Oktober 2020 | 13:08 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (EPA-EFE/LUDOVIC MARIN/via Republika)
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (EPA-EFE/LUDOVIC MARIN/via Republika)

JAKARTA, AYOBOGOR.COM -- Pernyataan Presiden Emmanuel Macron pada 21 Oktober membela hak untuk menunjukkan karikatur Nabi Muhammad sebagai kebebasan berekspresi, membuat muslim di beberapa negara Islam mulai berkampanye untuk memboikot barang-barang dari negara tersebut.

Hal serupa juga terjadi tahun 2006 atas pemboikotan produk Denmark. Aksi ini merugikan keuangan perusahaan Denmark sampai ratusan juta dolar AS. Karikatur Nabi pertama kali diterbitkan oleh surat kabar Denmark Jyllands-Posten pada bulan September 2005. Karikatur tersebut diambil oleh publikasi Eropa lainnya pada awal 2006, termasuk majalah satir Perancis Charlie Hebdo.

Sayangnya, karikatur itu memicu protes di kalangan Muslim di banyak negara yang mulai memboikot produk Denmark. Dalam hal ini, pemerintah sejumlah negara juga terlibat dengan protes diplomatik yang meningkat hingga penutupan beberapa kedutaan.

Dilansir Salaam Gateway, Jumat (30/10), boikot barang-barang Denmark di negara-negara Islam yang merugikan keuangan perusahaan Denmark sampai jutaan. Antara Februari dan Juni 2006, ekspor Denmark ke Timur Tengah turun hingga setengahnya dan biaya bisnis Denmark sekitar 134 juta Euro atau 170 juta dolar Amerika.

Perusahaan susu terbesar, Arla terpaksa memasang iklan satu halaman penuh di seluruh Timur Tengah. Arla kehilangan sekitar 450 juta krona Denmark atau sekitar 70 juta dolar Amerika karena boikot tahun 2006. Dampak ini berkepanjangan, hingga pada April 2008 perusahaan mengatakan omzetnya hanya setengah dari apa yang diharapkan untuk tahun 2008.

Jyllands-Posten meminta maaf pada tanggal 30 Januari 2006 dengan mengatakan itu bukan niatnya untuk menyinggung Nabi.

Di Prancis, Muslim turun ke jalan pada tahun 2006 sebagai protes terhadap karikatur dan Masjid Agung Paris dan Persatuan Organisasi Islam Prancis menggugat Charlie Hebdo. Setahun kemudian pengadilan Prancis membersihkan majalah tersebut dengan mengutip kebebasan berekspresi dan mengatakan kartun itu bukan merupakan serangan terhadap Islam secara umum.

Pada Januari 2015 lalu, 12 orang di kantor Charlie Hebdo dibunuh oleh penyerang yang diduga membalas dendam kepada Nabi Muhammad. Kedua penyerang itu tewas dalam penggerebekan polisi. Tetapi pengadilan terhadap 14 orang yang dituduh membantu mereka, dimulai bulan lalu. Menjelang persidangan, Charlie Hebdo menerbitkan ulang karikatur tersebut.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Pentingnya Skrining Pribadi Sebelum Beraktivitas

Sabtu, 4 September 2021 | 15:46 WIB

7 Motor Paling Populer di 2021

Rabu, 18 Agustus 2021 | 13:29 WIB

11 Sumber Vitamin C Alami yang Bagus Hadapi Pandemi

Selasa, 17 Agustus 2021 | 10:47 WIB

6 Penyebab Rambut Ubanan Padahal Masih Muda

Minggu, 8 Agustus 2021 | 16:58 WIB

Covid-19 Bisa Menular Lewat Makanan? Ini Faktanya

Minggu, 8 Agustus 2021 | 14:26 WIB

Dituduh Lecehkan Pembantu, Ivan Gunawan Buka Suara

Minggu, 8 Agustus 2021 | 13:16 WIB

Denny Darko Ramal Ganjar Pranowo Jadi Presiden 2024

Minggu, 8 Agustus 2021 | 09:54 WIB
X