Saat di Bogor, Menkes Budi Gunadi Sebut Stunting Sebabkan Kematian Ibu dan Anak di Indonesia Masih Tinggi

- Jumat, 22 Juli 2022 | 13:30 WIB
Menkes, Budi Gunadi Sadikin. Budi Gunadi menyebut karena stunting angka kematian ibu dan anak di Indonesia tinggi. (ayobogor.com/Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Menkes, Budi Gunadi Sadikin. Budi Gunadi menyebut karena stunting angka kematian ibu dan anak di Indonesia tinggi. (ayobogor.com/Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

BOGOR, AYOBOGOR.COM- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam hal kasus stunting ternyata menyebabkan kematian ibu dan anak di Indonesia masih tinggi yakni di atas 20 persen.

Sementara itu, kasus kematian ibu berada di angka 7.800 kasus per tahun dan kematian anak 25 ribu per tahun. Menurut Budi, kasus tersebut merupakan angka yang ingin diturunkan.

"Yang pertama, banyak masalah hipertensi ibu meninggal. Jadi harus rajin, banyak olahraga. Yang kedua, kematian ibu, kematian anak sama stunting itu disebabkan karena kurang gizi makanya mesti makan yang cukup,” ujar Menkes saat berkunjung ke SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (21/7/2022).

Maka dari itu, mengutip Republika-jaringan Ayobogor.com, selain vaksinasi dan pandemi Covid-19, Kementerian Kesehatan juga mendapat tugas untuk mengatasi masalah kesehatan dalam ranah stunting, kematian ibu, dan kematian anak.

Baca Juga: Kepala BKKBN: Awas! Autism dan Stunting Rawan Diakibatkan Jarak Lahir Terlalu Dekat

Lebih lanjut, Budi menyebutkan, kematian ibu dan anak juga disebabkan oleh anemia dan kurang darah. Sehingga disarankan untuk mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD).

Tiga program ini, kata dia, harus dijalankan dengan olahraga cukup supaya hipertensi turun. Terutama para remaja agar makan yang bergizi, sekaligus TTD supaya tidak kekurangan darah.

“Bagaimana menjalankan ini ke 5 juta ibu-ibu yang hamil setiap tahun atau 12 juta remaja yang nanti akan masuk masa subur? Itu nggak mungkin kita lakukan sendiri,” tuturnya.

Menkes menjelaskan, pihaknya harus melakukan model gerakan agar siswi-siswi atau remaja putri mengerti terkait menjaga kesehatan.

Halaman:

Editor: Rahajeng Pramesi

Sumber: Republika

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X