Mengangkat Derajat dan Martabat Olahan Jengkol Lewat Festival

- Jumat, 17 November 2017 | 16:47 WIB
Ratusan penikmat jengkol berkumpul di pujasera Bellanova Country Mall, Sentul, Kabupaten Bogor, Jumat (17/11/2017) siang.
Ratusan penikmat jengkol berkumpul di pujasera Bellanova Country Mall, Sentul, Kabupaten Bogor, Jumat (17/11/2017) siang.

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Ratusan penikmat jengkol berkumpul di pujasera Bellanova Country Mall, Sentul, Kabupaten Bogor, Jumat (17/11/2017) siang. Mereka menghadiri pembukaan Festival Jengkol Indonesia yang bakal berlangsung hingga 19 November 2017.

Sejak dibuka sekitar pukul 12.30 WIB, para pengunjung yang merupakan penikmat jengkol ini langsung menyerbu area festival. Sebagian besar di antaranya, yang merupakan penggemar jengkol garis keras, langsung menyerbu resto khusus yang menyediakan aneka olahan jengkol.

Steak, burger, pasta, rice bowl, bakpao, siomay, batagor, sate, cookies, jengkol crispy, dan bebagai olahan lainnya disajikan dalam festival ini. Semua berbahan dasar jengkol.

Festival ini sengaja diselenggarakan untuk mempromosikan kembali makanan ikonik yang banyak digemari masyarakat Indonesia ini. Festival juga dimaksudkan sebagai ajang kongkow para penikmat kuliner berbentuk gepeng sekaligus spiral tersebut.

"Kita mau lihat segimana, sih, antusiasnya orang Indonesia sama jengkol. Ternyata antusias sekali," kata Ketua Panitia Festival Jengkol Indonesia, Umi Kamilah Islamiyah. Banyakanya pengunjung saat pembukaan festival menandakan jika kuliner ini memang digemari khalayak tanah air.

Hari pertama festival, sebut Mila, begitu ia dipanggil, juga dimeriahkan dengan kegiatan lomba masak. Berbagai menu macam Jengkol Kecap Pedas, Gulai Teri Jengkol, Jengkol Bola Saus Tomat, dan berbagai jenis lainnya disajikan peserta.

Bermacam menu yang disajikan dalam festival diolah dengan berbagai cara sehingga tak mengeluarkan aroma tajam khas jengkol, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda. Bau tajam yang menjadi ciri khas jengkol, diakui atau tidak, memang menjadi salah satu pengganjal yang membuat popularitas jengkol maju di tempat.

Salah seorang koki yang menjadi peserta, Rinto mengatakan jika para tamu hotel yang notabene kelas menengah ke atas rata-rata beralasan enggan mengonsumsi jengkol lantaran baunya yang menyengat. Rinto menjadi koki di Ladja Hotel, Kalimantan Barat. Tempatnya bekerja menjadi satu dari sedikit hotel yang menyajikan jengkol dalam menu makanannya.

Supaya jengkol bisa dinikmato tamu hotrl, ia berinovasi agar hasil olahannya tidak mengeluarkan bau menyengat saat dikonsumsi. Formulasinya, jengkol harus direbus menggunakan air mendidih selama dua jam dan direndam menggunakan air garam selama satu jam. Setelah melalui proses terebut, jengkol harus langsung diolah dan tak boleh didiamkan meski sebentar.

Cara itu, katanya, terbilang cukup efektif dan instan. Sayangnya formulasi ini tak bisa mencegah keluarnya bau jengkol saat kencing maupun buang air besar. Jika hendak menetralkan aroma tanpa meninggalkan bau sama sekali, banyak cara yang bisa ditempuh. Namun cara-cara ini membutuhkan waktu lebih lama.

"Sejauh ini formulasi itu cukup berhasil. Banyak tamu hotel kami yang tertarik memakan jengkol. Turis-turis dari luar negeri juga, terutama Belanda. Mereka (turis Belanda) biasanya makan semur jengkol atau rendang jengkol. Karena enggak terlalu suka pedas," sebut Rinto.

Di luar itu, Mila menyebut jika jengkol juga memiliki bermacam manfaat kesehatan. Kandungan antioksidan yang tinggi diklaim mampu menjadi penangkal kanker dan penuaan pada manusia.

Dari sekian banyak misi festival yang hendak dicapai, maksud paling menggebu-gebu di balik perhelatan ini tiada lain untuk mengangkat derajat jengkol menjadi lebih bermartabat. Membaptis jengkol sebagai makanan berkelas, atau menegaskannnya, sebab tak sedikit orang yang menganggap jengkol merupakan kuliner yang berkelas.

Dari segi harga, jengkol tak kalah jika dibandingkan dengan jenis daging-dagingan. Dari segi popularitas, Mila memandang jika sesungguhnya jumlah aktual penggemar jengkol terbilang berlimpah. Namun tak sedikit di antara mereka yang malu-malu gengsi mengakui kegemaran makan jengkol.

"Jengkol itu identik dengan makanan kelas menengah ke bawah. Orang-orang menengah ke atas, yang doyan jengkol, suka malu mengakui kalau mereka suka. Kadang suka jadi rahasia. Padahal enggak usah rahasia, lah. Kita sudah tahu kalau orang Indonesia itu pecinta jengkol," kata Mila.

Dia mengharapkan jika suatu saat jengkol dapat secara terbuka diakui sebagai makanan berkelas di Indonesia. Parameter seandanya, olahan jengkol harus bisa terdaftar dalam buku menu restoran maupun hotel berbintang. "Jangan cuma di warteg aja," kata dia.

Festival skala nasional ini juga mendapat sambutan positif dari publik. Mila sudah mendapat undangan untuk menggelar festival serupa di empat daerah lainnya, antara lain Bekasi, Karawang, Palembang, dan Riau. Di tempat yang terakhir disebut bahkan Mila mendapat permintaan dari Pemerintah Provinsi.

Untuk mempropaganda jengkol ini, Mila juga berencana bakal melakukan roadshow ke sejumlah kota besar di tanah air. Roadshow direncanakan dimulai awal tahun dan melibatkan berbagai pihak yang terlibat dalam dunia perjengkolan, termasuk petani dan produsen.

Ia juga tak malu-malu berharap agar promosi olahan jengkol ini bisa mentas di luar negeri. Dia berjanji bakal terus memperkaya daftar menu olahan jengkol sehingga makin variatif dan digemari. "Jengkol tidak hanya makanan orang kampung, tapi jengkol juga makanan high class," kata dia.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Catat 6 Destinasi Liburan Ramah Keluarga di Malaysia

Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:46 WIB

Bogor Borong 4 Penghargaan di Pekan Kerajinan Jabar

Senin, 28 Oktober 2019 | 09:29 WIB

5 Surga Tersembunyi di Bogor, Patut Dikunjungi

Senin, 23 September 2019 | 17:45 WIB

Saung Jurasep 3, Sajikan Menu Tradisional Berbeda

Kamis, 12 September 2019 | 12:50 WIB

Terpopuler

X