Kebun Raya Diharapkan Kuatkan Tiga Identitas Bogor

- Minggu, 16 Februari 2020 | 11:07 WIB
Bima Arya saat menjadi narasumber dalam bincang santai bertajuk ‘500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor’ (Dok. Pemkot Bogor)
Bima Arya saat menjadi narasumber dalam bincang santai bertajuk ‘500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor’ (Dok. Pemkot Bogor)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM -- Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan saat ini Pemkot Bogor tengah berkolaborasi dengan Kebun Raya Bogor (KRB) dan LIPI untuk menguatkan tiga identitas yang sama, yakni Kota Pusaka (Heritage City), Kota Hijau (Green City), dan Kota Cerdas (Smart City).

“Kami saling menguatkan identitas Kebun Raya yang sama dengan identitas Kota Bogor. Jadi tiga-tiganya itu ada di Kebun Raya dan ada juga di Kota Bogor. Itu poin pertama,” ungkap Bima Arya saat menjadi narasumber dalam bincang santai bertajuk ‘500 Tahun Konservasi Tumbuhan: Batu Tulis Hingga Kebun Raya Bogor akhir pekan ini.

Poin kedua, lanjut Bima, KRB ini sedang berjuang untuk mendapatkan status sebagai world heritage site dari UNESCO.

“Prasyaratnya banyak tapi kita optimis, kita bisa lengkapi itu,” katanya.

Poin selanjutnya yang dibahas adalah mengenai penataan yang dilakukan oleh KRB harus sinkron dengan apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor.

“Kita sudah tata sekelilingnya, pedestriannya, tetapi ke depan juga kita akan berkolaborasi dalam banyak hal, bukan saja penataan secara fisik, tapi riset-risetnya. Kita ingin gali apakah betul Kebun Raya ini 200 tahun, jangan-jangan sudah 5 abad. Makanya perlu kolaboratif riset yang dilakukan oleh Pemkot, LIPI dan Kebun Raya,” ujarnya.

Bima menambahkan, pihaknya bersama para budayawan, akademisi dan komunitas saat ini mulai menyusun bersama-sama terkait rencana menata kawasan Batutulis.

“Ini juga misteri besar, sampai sekarang sejarawan dan budayawan di Bogor berdebat tidak berhenti. Dimanakah lokasi Ibukota Kerajaan Pakuan Pajajaran? Apakah di Batutulis? dan ada sebagian percaya di Istana Bogor,” jelas dia.

“Di Batutulis ada bukti-buktinya, tetapi yang di Istana ada juga referensinya. Tidak mungkin Belanda buat istana di sini tanpa referensi sejarah. Batutulis sama juga, tidak mungkin Bung Karno buat Istana Batutulis tanpa referensinya. Dan bukti-buktinya banyak. Kemudian saya bersama komunitas dan budayawan keliling, inventarisir, ada di rumah-rumah penduduk tersebar temuan-temuan situs-situs ini. Ini akan panjang karena menguak misteri yang harus dibuktikan secara saintifik,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Terpopuler

X