Rokok Tingkatkan Kemiskinan dan Turunkan Kualitas SDM

- Rabu, 25 September 2019 | 18:46 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Ad-Interim Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Asia Pacific Cities Alliance For Tobacco Control And Prevention of Non Communicable Diseases (APCAT SUMMIT) Ke-4 di Bogor, Rabu (25/09/2019).  (Husnul Khatimah/Ayobogor.com)
Menteri Koordinator (Menko) Ad-Interim Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Asia Pacific Cities Alliance For Tobacco Control And Prevention of Non Communicable Diseases (APCAT SUMMIT) Ke-4 di Bogor, Rabu (25/09/2019). (Husnul Khatimah/Ayobogor.com)

BOGOR TENGAH, AYOBOGOR.COM -- Mengonsumsi rokok secara konsisten berkontribusi terhadap peningkatan angka kemiskinan juga menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Ad-Interim Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam acara Asia Pacific Cities Alliance For Tobacco Control And Prevention of Non Communicable Diseases (APCAT SUMMIT) Ke-4 di Bogor, Rabu (25/09/2019). 

“Anggaran keluarga miskin tersita akibat belanja rokok. Andil rokok terhadap kemiskinan per Maret 2019 sebesar 11,38% di wilayah perdesaan dan 12,22% di wilayah perkotaan,” ujar Agus.

Agus mengatakan, dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS RI) tersebut, rokok dinilai merupakan masalah besar dalam upaya pembangunan kesejahteraan sosial.

"Khususnya dalam upaya memerangi kemiskinan dan membangun sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Mengutip survei Global Adult Tobacco tahun 2018, Agus mengatakan bahwa jumlah perokok di Indonesia saat ini sebanyak 67% dari total penduduk atau sekitar 178 juta jiwa. 

“Dengan jumlah tersebut, Indonesia merupakan negara dengan proporsi perokok pria terbanyak di dunia,” katanya. 

Merujuk data Kementerian Kesehatan, kata Menko, terjadi sedikit penurunan prevalensi merokok dari 29,3% pada tahun 2013 menjadi 28,8% pada tahun 2018. 

“Namun, prevalensi merokok usia kurang 18 tahun justru meningkat dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018. Padahal, dalam RPJMN 2015-2019 Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi perokok remaja usia 10-18 tahun ke angka 5,4% di tahun 2019,” kata Agus.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

X