Bisnis Sayuran, Lulusan S2 IPB Raup Rp500 Juta per Bulan

- Sabtu, 7 September 2019 | 10:10 WIB
Sandi Octa Susila (Istimewa)
Sandi Octa Susila (Istimewa)

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Orang akan berdecak kagum melihat usaha dan kegigihannya di bidang pertanian. Betapa tidak, di usianya yang relatif masih muda, lulusan S2 IPB, penggerak 373 petani, dan mengelola lahan seluas 120 hektare lahan sayuran.

Dengan sederat usahanya itu, lelaki berkacamata bernama lengkap Sandi Octa Susila ini juga membawahi 50 karyawan untuk mengelola usahannya itu. Pemuda kelahiran Cianjur 26 tahun lalu menetapkan jalur profesi dan bisnisnya di dunia pertanian. Hal yang teramat jarang digeluti anak muda pada usianya. Bahkan dia memulai usaha sejak duduk di semester lima.

Awal terjun di dunia bisnis, Sandi melihat banyak hasil panen kebun sayur tidak maksimal diperjualbelikan. Bermodalkan salah satu website jual beli, Sandi mendokumentasikan satu per satu hasil produksi ayahnya. Dari situlah dia mendapat pengalaman pertama. 

“Saya memulai usaha pada 2015.  Saat itu masih semester lima. Saya ambil wortel, lettuce, beras, daun bawang, dan kentang dari lahan ayah saya sendiri. Klien pertama saya sebuah perusahaan cepat saji. Omzet yang saya terima Rp 3 juta dengan keuntungan Rp 500 ribu per minggu. Angka segitu cukup besar bagi seorang mahasiswa,” cerita Sandi.

Sementara ayanhnya mengambil jalur retail sayur, Sandi bergerak pada bisnis horeka. Bisnisnya juga tidak selancar dugaan orang. Sandi pernah menjadi korban penipuan dan mengalami depresi cukup berat. Berkat dukungan keluarga dan orang terdekat, Sandi kembali bangkit dan merintis usahanya. Dalam kurun waktu empat tahun, sayur – mayur di bawah binaannya berhasil memasok 25 hotel di Jawa Barat. 

Berperilaku santun, rendah hati, akrab dengan para pegawainya adalah ciri khasnya. Selain usaha budidaya lahan, Sandi juga membina Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan (P4S) yang terbuka bagi siapa saja. Pada level bisnis, dirinya mengembangkan PT Mitra Tani Parahyang sebagai perusahaan pemasok bahan baku hotel. 

Dalam menerapkan harga jual, pemuda berusia 26 tahun ini menawarkan harga bagus untuk petani. Kepiawaiannya merangkul petani, meyakinkan perusahaan dan membangun team work adalah kunci sukses Sandi. Tidak hanya berorientasi profit, Sandi membantu petani sekitar dalam permodalan benih atau pestisida. 

“Misal, harga kentang petani Rp 4 ribu, kami beli Rp 8 ribu lalu kami jual ke perusahaan Rp 11 ribu. Kenapa petani mau? Ini karena dari sisi value kita tambah, dari sisi pasar ada kejelasan,” ujarnya. 

Terkait kondisi cuaca yang sulit diprediksi, Sandi memiliki kiat khusus agar suplai ke konsumen tepat waktu. Tak hanya mengatur pola tanam, waktu dan jumlah pesanan ke masing-masing petani sudah terjadwal baik.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Terpopuler

X