Vape dan Shisa Bakal Diatur Dalam Perda KTR

- Selasa, 27 November 2018 | 07:42 WIB
Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor. (ayobogor.com/Husnul Khatimah)
Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor. (ayobogor.com/Husnul Khatimah)

AYO BACA : Kembangkan Kampung Tematik di Bogor, Mahasiswa Unpak Gelar Seminar

BOGOR TENGAHAYOBOGOR.COM--Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor  membahas tiga Peraturan Daerah (Perda) Kota Bogor. Diantaranya mengenai Penyelenggaraan Kesehatan dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Senin (26/11/2018).

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan Perda Penyelenggaraan Kesehatan diperlukan untuk mengganti Perda No.19/2011 tentang Perubahan atas Perda No.3/2005 tentang Penyelenggaraan Kesehatan.

"Diperlukannya penggantian Perda ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengakomodir perkembangan bidang kesehatan mutakhir yang berpengaruh terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan akses yang lebih mudah, terjangkau dan berkualitas,” ujar Bima saat menyampaikan pendapat akhir di Gedung DPRD Kota Bogor.

Sementara untuk Perda KTR, revisi yang ada meliputi definisi rokok yang diperluas sehingga tidak hanya rokok sigaret. Rokok filter dan kretek melainkan juga shisha dan rokok elektrik (vape) yang pemakaiannya kini semakin banyak dilakukan warga masyarakat.

”Alasan lainnya, karena baik shisha maupun rokok elektrik (vape) menimbulkan efek kecanduan kepada para pengguna, atau ada efek perilaku yang perlu diwaspadai pada para pengkonsumsi rokok elektrik,” kata Bima.

Revisi juga akan dilakukan terhadap kewenangan sehingga tempat yang ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok diperluas dan tidak lagi hanya 8 tempat sebagaimana yang diatur di dalam perda KTR sebelumnya. Tempat-tempat baru yang dikategorikan sebagai Kawasan Tanpa Rokok, selanjutnya akan ditetapkan dan diatur di dalam sebuah Peraturan Walikota.

Terakhir terdapat ketentuan yang mengatur perihal display atau tempat penjualan rokok seperti yang terdapat di mini supermarket dan perihal sponsor rokok yang dilarang untuk mendukung penyelenggaraan berbagai event atau kegiatan yang diselenggarakan masyarakat.

Disamping itu terdapat ketentuan untuk memasang larangan melakukan penjualan rokok terhadap anak-anak dengan usia di bawah 18 Tahun. Menurut Bima berdasarkan hasil sebuah penelitian disebutkan, bahwa perilaku merokok pada usia dini merupakan awal untuk menumbuhkan kebiasaan mengkonsumsi narkoba dan menjadikan ketergantungan pada narkoba.

"Dengan terbitnya perda ini diharapkan tumbuh suatu perubahan sikap dan perilaku di masyarakat terkait kebiasaan mengkonsumsi rokok termasuk kebiasaan baru menghisap shisha dan rokok elektrik. Diharapkan pula kedepannya konsumsi rokok dapat ditekan, terutama di kalangan para remaja,” kata Bima.

AYO BACA : Pembangunan Jembatan Gadog Capai 65%

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Terpopuler

X