Kenapa Kita Sering Pilek Saat Peralihan Cuaca Hujan

- Kamis, 28 September 2017 | 10:39 WIB

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Peralihan cuaca dari panas menuju hujan tak jarang membuat kita terkena pilek. Penyakit ini seolah mengintai sejak jauh-jauh hari. Di saat yang tepat, virus penyebab pilek menyergap dan bersarang tubuh kita. Gejala bersin dan hidung tersumbat muncul saat tubuh diserang.

Pilek adalah infeksi ringan pada hidung, atau saluran pernapasan lainnya akibat serangan virus. Selain virus, faktor penyebab pilek juga bisa diakibatkan cuaca dingin. Pilek memang identik dengan cuaca dingin. Maka tak mengherankan jika dalam bahasa Inggris penyakit ini dikenal dengan istilah cold.

Gejala awal pilek biasanya berupa bersin dan hidung tersumbat. Gejala ini mirip dengan rhinitis yang merupakan peradangan atau iritasi yang terjadi dalam rongga hidung. Pilek yang terjadi saat peralihan cuaca dingin ini kerap diidentifikasi sebagai rhinitis.

Dilansir dari alodokter.com, peradangan membran mukosa dalam hidung yang menyebabkan rhinitis bisa diakibatkan oleh bakteri, alergen (penyebab alergi), dan virus. Alergi yang menyebabkan rhinitis biasanya berasal dari rambut hewan, bahan kimia, debu, serta serbuk sari pada bunga.

Selain disebabkan alergi, rhinitis juga disebabkan faktor non-alegren semisal stres, makanan dan minuman, obat-obatan, ketidakseimbangan hormon, infeksi, atau cuaca yang termasuk ke dalam faktor lingkungan. Rinithis juga bisa disebakan kombinasi faktor alegren dan non-alegren.

Cuaca dingin memang kerap memicu terjadinya pilek. Kendati dihitung sebagai faktor non-alegren, dalam penjelasan lain cuaca dingin juga kerap disebut sebagai faktor alergi. Orang-orang biasanya suka mengeluhkan alergi cuaca dingin atau debu.

Lantas, kenapa pilek menyerang saat peralihan cuaca hujan terjadi? Dalam sebuah hasil studi yang diterbitkan di "Journal of Clinical Virology", para peneliti berteori jika virus penyebab pilek mampu bertahan lebih baik saat cuaca dingin atau kering.

Udara dingin diyakini dapat menyerap kelembapan ekstra, membuat partikel-partikel kecil lebih mampu bertahan di udara. Akibatnya, virus menjadi lebih mudah berpindah dari satu orang ke orang lain di sekitarnya.

Dalam studi ini, para peneliti dari Swedia dan Skotlandia mengumpulkan lebih dari 20 ribu penyeka hidung selama 3 tahun untuk mendeteksi penyakit pernapasan. Para peneliti juga menganalisis data cuaca lokal untuk mengetahui hubungan cuaca dingin dan penyakit pernapasan.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Rendah, Serapan Anggaran Pemkot Bogor Baru 63 Persen

Jumat, 26 November 2021 | 16:43 WIB
X