Abdullah bin Nuh, Ulama Kondang Bogor yang Diakui Dunia dan Diklaim Hizbut Tahrir

- Rabu, 24 Mei 2017 | 20:39 WIB
Abdullah bin Nuh.
Abdullah bin Nuh.

BOGOR, AYOBOGOR.COM -- Sebagai seorang tokoh besar, sosok Abdullah bin Nuh terasa komplit. Ia mampu memainkan beragam peran sekaligus. Sebagai ayah, kawan, sahabat, guru, sekaligus pembimbing. Begitulah Muhammad Mustofa Abdullah bin Nuh, putra bontot Abdullah bin Nuh, menggambarkan dan mengenang sosok sang bapak.

Mama, begitu ia kerap disapa, dilukiskan sebagai sosok yang mendekati sempurna. Ketajaman pengetahuan, kesungguhan amal, dan keluhuran budi Mama, dinila tiada duanya. Siapapun yang bersua Mama, dijamin meninggalkan kesan bahagia.

Abdullah bin Nuh merupakan sosok ulama kondang yang dikenal luas di Bogor, bahkan dunia. Lahir di Cianjur 1905 silam, Abdullah melanglang-buana, bertualang, sekaligus mempertajam pengetahuannya di segala penjuru Tanah Air. Ia juga sempat menjejakan kakinya di salah satu kawah candradimuka cendekiawan muslim dunia, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Abdullah, merupakan sosok yang segala bisa. Ia memiliki kemampuan multilingual, empat bahasa, Indonesia, Belanda, Jepang, dan Inggris, dikuasainya. Ia juga punya kedalaman menggali berbagai wacana keilmuan. Wacana-wacana keilmuan yang lahir dari peradaban Islam, ia lahap habis. Begitupun produksi wacana yang lahir dari rahim peradaban dunia Barat, tak luput dari perhatiannya.

Karena kedalaman dan keluasan pengetahuannya tersebut, Abdullah dikenal sebagai orang yang cakap dalam berbagai bidang. Ia dikenal sebagai pujangga, ulama, cendekia, sejarawan, sekaligus pelaku sejarah itu sendiri.

Pengetahuan Mama yang sedemikian rupa itu pula yang membuatnya banyak dikenal. Di Bogor, Mama menjadi sosok yang begitu dihormati. Ia mengguratkan pengaruhnya lewat Yayasan al-Ghazaly. Mustofa bercerita, sejak dulu, Mama memang dikenal punya aura berbeda. Ia mampu bergaul dengan setiap golongan lantaran pembawaannya yang begitu cair.

"Keilmuan beliau yang begitu luas membuat beliau bisa cair dengan muslim manapun, tanpa melihat identitas, warna kulit, ataupun anutan mazhab," kata Mustofa saat dijumpai di Yayasan al-Ghazaly, Kota Bogor, Rabu (24/5/2017).

Setiap orang yang sempat berjumpa Mama, Mustofa bersaksi, dipastikam langsung jatuh hati. Mama, kata Mustofa, bak sosok seorang sahabat sekaligus ayah bagi siapapun yang dijumpainya. Kecerdasan, keterbukaan, dan kepedulian Mama, membuat setiap orang, dari golongan manapun, bakal merasa terayomi.

Kehadiran Mama, disambut di berbagai kalangan, termasuk Syiah. Kendati secara tegas Mama mengaku bermazhab Sunni. Pengagum berat al-Ghazali ini, yang juga mendorong persatuan umat Islam, memahat keyakinannya dalam kitab magnum opusnya berjudul "Ana Muslim Sunni Syafii" yang menjelaskan buah pikir Mama tentang ajaran Ahlusunnah bermazhab Sunni Syafii.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

Terpopuler

X