Harga Jengkol di Cianjur Melambung Jelang Ramadan

- Rabu, 24 Mei 2017 | 10:55 WIB
Ilustrasi. (ANTARA/Feny Selly)
Ilustrasi. (ANTARA/Feny Selly)

CIANJUR, AYOBOGOR.COM – Tak aneh jika harga-harga kebutuhan akan beranjak naik setiap jelang Ramadan. Harga jengkol di sejumlah pasar tradisional di Cianjur, Jawa Barat, misalnya. Yang biasanya dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram, kini melambung jauh sampai Rp 80 ribu per kilogram. Padahal, harga sayur mayur dan bumbu dapur lainnya masih terpantau normal.

“Kenaikan harga jengkol terjadi karena saat ini bukan musimnya,” ujar Solihin, salah seorang pedagang di Pasar Induk Pasir Hayam, Cianjur, Rabu (24/5/2017), sebagaimana dilansir dari ANTARA.

Selain itu, momen bulan puasa pun disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang membuat harga jengkol ini naik. Sebab, jengkol rupanya jadi makanan favorit warga sebagai lauk pauk untuk berbuka puasa. “Tingkat pemakaian (jengkol) cukup meningkat,” kata Solihin.

Meroketnya harga jengkot membikin penjualan Solihin berkurang setiap harinya. Jika biasanya ia dan pedagang lainnya mampu menjual hingga puluhan kilogram, kini per hari mentok-mentok hanya enam hingga delapan kilogram. Lantas, hal itu membuat pedagang jengkol serupa Solihin terpaksa mengurangi pembelian jengkol dari Pasar Caringin, Bandung.

Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Cianjur mengimbau pedagang di wilayah tersebut agar tidak membeli barang secara berlebihan untuk kemudian dijadikan stok. Sebab kebiasaan tersebut nantinya akan memicu terjadinya lonjakan harga di pasaran jelang Ramadan dan Idulfitri.

Kebanyakan pedagang merasa takut dan khawatir akan terjadinya lonjakan harga. Lantas para pedagang pun belanja barang dalam porsi yang luar biasa besar. Nah, hal itu yang menurut Diskoperindag Cianjur dapat menyebabkan terjadinya lonjakan harga. “Meskipun tujuan mereka baik sebenarnya. Agar tidak kesulitan mendapatkan stok,” ujar Kepala Diskoperindag Cianjur, Hilman Haris.

Kebiasaan memborong, kata Haris, dapat menimbulkan anggapan bahwa permintaan terhadap barang yang dibelanjakan menjadi tinggi. Jika sudah begitu, tidak menuntup kemungkinan kalau kemudian distributor atau bandar akan menangkap momen tersebut sebagai salah satu cara untuk menaikkan harga jual pada pedagang.

Editor: Asri Wuni Wulandari

Tags

Terkini

Terpopuler

X