Yuk, Lestarikan Kaulinan Urang Lembur

- Rabu, 17 Mei 2017 | 17:01 WIB
Kaulinan lembur sorodot gaplok
Kaulinan lembur sorodot gaplok

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Permainan tradisional, yang dulu pernah berjaya, semaikn hari semakin sulit ditemukan. Banyak 'kaulin urang lembur' yang kini mulai ditinggalkan bocah-bocah dan muda-mudi tanggung. Jauh dari kata lestari, apalagi abadi.

Banyak hal yang menjadi faktor. Munculnya ragam permainan modern yang lahir dari rahim perkembangan teknologi informasi menjadi pemantik yang kerap dituding jadi biang. Tak hanya itu, menyempitnya ruang publik akibat alihfungsi lahan, termasuk untuk menopang pembangunan, menjadi faktor lain.

Gejala macam itu dapat dilihat di kota-kota metropolis. Bogor salah satunya, kota sejuta angkot yang belakangan getol-getolan hendak merehabilitasi statusnya menjadi kota seribu taman. Penciptaan ruang publik terbarukan ini barang tentu dilandasi motif luhur, menciptakan kesan kota yang lebih humanis. Dalam arti, mengakomodasi ruang gerak manusia yang saban hari kian terjepit desakan mesin-mesin dan benda mati lainnya.

Sebagai salah satu kawasan yang menjadi jantung peradaban Tatar Sunda di masa lampau, Bogor tentunya memiliki bermacam produk kebudayaan. Tak terkecuali permainan tradosional yang menjadi fakta sosial. Berbagai macam permainan tradisional macam bebentengan, egrang, congklak, sorodot gaplok, atau kelom batok. Bahkan, yang terakhir disebut, konon merupakan permainan asli asal Bogor.

Hal itulah yang menjadi satu dari sekian alasan Pemerintah Kota Bogor menggelar Festival Kaulinan Urang Lembur, di Lapangan Gedung Olah Raga (GOR) Pajajaran, Jalan Pemuda, Rabu (17/5/2017). Festival tahunan yang diinisiasi Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat menghadirkan beragam permainan tradisional.

Terdapat sembilan jenis permainan tradisional yang diperlombakan, antara lain egrang, kelom batok, rorodaan, sorodot gaplok, babancakan, gatrik, gangsing, bedil jepret, dan sumpit. Para peserta tampak begitu antusias mengikuti jalannya perlombaan. Tak jarang tawa pecah di antara peserta. Tak jarang pula mimik gemas menampak lantaran gatal melihat kawannya tak berhasil menuntaskan permainan.

"Tujuannya jelas, supaya anak-anak yang menjadi peserta bisa bisa terus melestarikan permainan tradisional yang semakin hari semakin punah. Ini, kan, warisan kebudayaan," kata Kepala Seksi Pengembangan Dan Pelestarian Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Lusi Rosella Lestari.

Pelestarian permainan tradisional tersebut dinilai penting untuk membentuk mentalitas dan karakter peserta. Sebabnya, permainan tradisional mengandalkan kolektivitas dan keterlibatan fisik yang berpengaruh kepada masa depan anak.

Kolektivitas dan keterlibatan fisik ini dinilai menjadi instrumen penting yang juga membedakan permainan tradisional dan modern. "Secara kesehatan, fisik mereka juga menjadi terlatih. Sehingga tumbuh kembang anak bisa terjaga nantinya," kata Lisa.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Terpopuler

X